Selasa, 07 Maret 2017

Film Bertema Kehidupan


  Pada kesempatan kali ini saya akan mengulas film-film bertemakan seputar kehidupan sehari-hari. Sebenarnya genre film seperti ini sudah tidak asing lagi bagi kita, memang dalam penyajiannya kurang menarik bila dibandingkan dengan film bergenre action yang penuh dengan adegan pemacu adrenalin,kelebihan film ini terletak pada peyajian ceritanya yang ringan karena kebanyakan kisahnya diangkat dari kehidupan sekitar kita dan problem-problem yang menyertainya sehingga banyak pesan moral dan pelajaran hidup yang bisa kita ambil, tidak seperti film-film drama yang mempermainkan emosi penontonnya dan terkadang belebihan dalam penyampaian alur ceritanya. Berikut adalah daftar filmya :
1. The Secret Life of Walter Mitty (2013)
 
index
Bercerita tentang Walte Mitty, seorang karyawan Majalah LIFE di bagian negative assets atau pengelola arsip klise foto.
Suatu hari majalah tersebut diakuisisi dan akan beralih menjadi majalah online, banyak karyawan yang terancam PHK, tak terkecuali Mitty. Dalam beberapa minggu semua orang sibuk menggarap penerbitan terakhir. Masalah muncul ketika Sean O’ Connel, fotografer outdoor professional mengirim paket klise negatif dan salah satunya akan menjadi sampul terbitan terakhir sebelum menjadi online.
Akan tetapi negatif yang dimaksud tidak ditemukan, dia berusaha mencari namun belum juga ditemukan bahkan didesak oleh manajer baru yang menyebalkan.
Akhirnya Mitty memutuskan untuk menemui Sean. Semua resiko mengejar Sean di penjuru dunia dilaluiya mulai dari Greenland, Islandia hingga bertemu
di Pegunugan Himalaya bagian Afganistan. Pada akhir film Mitty menyerahkan negatif nomor 25 yang dimaksud walaupun sudah di-PHK dan sempat berargumen dengan manajer baru , kemudian cetakan edisi terakhir pun terbit dan kejutan muncul… happy ending.

Pelajaran yang dapat diambil dari film ini adalah jangan ragu mengambil resiko, selama tindakan itu benar lakukan dengan berani dan penuh  tanggung jawab.

2. Boyhood (2014)
Sesuai judulnya, film ini mengisahkan perjalanan kehidupan seoang anak laki-laki berrnama Mason yang melewati masa mudanya dengan permasalahan broken home, bullying, KDRT, kesulitan ekonomi. Film ini sebenarnya hanya memaparkan human-timelapse 

 tentang perjungan seorang bocah dalam mencari jatidirinya, dengan alur maju tanpa klimaks, hanya konflik yang berurutan. Namun dari setiap konflik dapat kita ambil hikmahya. Mulai dari perceraian kedua orantuanya, pindah rumah, diasuh orang tua tiri yang kejam, dibully di sekolah,
kenakalan-kenakalan remaja yang membuatnya tidak lagi polos dan memahami apa hidup itu sebenarnya, bermasalah di sekolah karena tidak mengumpulkan tugas dan tindakan indisipliener, hingga akhirnya lulus sma dan melanjutkan kuliah
Yang menarik dari film ini adalah konsep human-timelapsenya dengan menggunakan pemain yang sama untuk lini waktu cerita. Proses prroduksinya sendiri memakan waktu 12 tahun. 
Pelajaran yang dapat diambil dari film ini adalah belajarlah dari pengalaman dan tabah dalam menghadapi cobaan, semua pengalaman hidup membuat kita semakin tahu dan semakin bijak dalam menyikapinya.

Penjelasan Teori Clifford Gertz tentang Involusi Pertanian dan Teori Scott dan Popkin tentang Rasionalitas Petani dengan kasus di Desa Ngarotirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen.

Teori Involusi Pertanian oleh Clifford Gertz
Involusi bila diartikan secara etimologi berati perubahan kedalam atau bisa dibilang sebagai kemunduran. Clifford Gertz adalah seorang antropolog yang pernah melakukan studi pada masyarakat di sebuah desa di Pulau Jawa. Proyek itu dinamai Mojokutho guna merahasiakan identitas desa aslinya. Dalam penelitiannya itu beliau menemukan fenomena yang cukup unik karena disebut sharing poverty. Beliau menilai bahwa masyarakat pedesaan di Jawa tangguh dalam menghadapi sulitnya hidup ditengah keterbatasan dan desakan ekonomi. Kemikinan bersama atau sharing poverty ini dakibatkan oleh kepemilikan lahan yang sempit, sehingga tidak efisien secara ekonomis. Permulaan semua itu dimulai ketika zaman kolonial Belanda. Pertanian adalah sumber uang bagi VOC setelah perdagangan. Konsep agroindustri dengan bentuk perkebunan yang terintegrasi dengan pabrik-pabrik merupakan sumber uang bagi pembangunan ekonomi Kerajaan Belanda. Pabrik gula adalah salah satu contohnya, secara biologi tebu dan padi hidup pada habitat yang sama, yaitu dataran rendah. Konflik terjadi ketika perkebunan pabrik mulai menggunakan lahan sawah untuk menanam tebu. Pertumbuhan populasi penduduk yang meningkat tidak diimbangi dengan suplai makanan pokok (beras) yang cukup akibat aneksasi sawah untuk kebun tebu. Sedangkan pertumbuhan luas areal padi hanya sedikit penngkatannya. Maka dari itu untuk menjaga suplai makanan untuk masyarakat dan tetap menjaga keberlangsungan perkebunan, pemerintah kolonial berusaha membuat sistem pergiliran tanam antara padi dan tebu. Imbasnya petani harus memiliki lahan garapan yang sempit. Dengan pertambahan penduduk yang semakin tidak terkendali menyebabkan tidak seimbangnya persebaran pekerja dengan lahan garapan secara ideal. Maka timbul peran-peran atau relung baru dalam usaha tani, yaitu petani buruh, penyewa, dan penyakap sebagai hasil adaptasi masyarakat desa yang tidak menguasai lahan secara dalam skala besar. Hal-hal serupa juga terjadi di Desa Ngarotirto, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen. Para petani di sana memiliki lahan yang kecil untuk mengusahakan komoditas palawija, itu pun harus bergilir dengan pihak Perhutani, karena sejatinya Perhutani-lah yang menguasai daerah tersebut untuk produksi jati. Bila dihitung secara ekonomi maka keuntungan yang diperoleh sangatlah sedikit. Karena lahan sempit berarti usaha tani tersebut bersifat padat modal. Kondisi inilah yang memaksa para petani untuk melakukan profesi lain di luar pertanian sebagai sampingan guna menambah pemasukan seperti menjadi satpam, nelayan di waduk, atau berdagang. Mereka terbiasa hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan. Bahkan beberapa petani cenderung bersifat subsisten, yaitu hanya menjual apa bila sisa hasil panennya, selebihnya untuk konsumsi sendiri.
Moral Ekonomi Pertanian oleh Scott vs Rasionalitas Petani oleh Popkin

Perdebatan Samuel Popkin dan James Scott tentang petani di Asia Tenggara sudah banyak dbicarakan orang. Popkin dengan bukunya The Rational Peasant mengambil kasus kehidupan petani di Vietnam pra industrial, sedangkan James Scott dalam bukunya The Moral Economy of The Peaasant, banyak membicarakan kasus di Myanmar. Scott mengatakan bahwa petani menganut gaya hidup gotong royong, tolong menolong, dan melihat persoalan sebagai masalah kolektif. Rasionalitas petani menurut Scott adalah moral ekonmi petani yang hidp di garis batas subsistensi, yaitu dengan norma mendahulukan selamat dan enggan mengambil resiko.                                                                               Contoh yang terjadi di Desa Ngargtirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen adalah bahwa petani menanam komoditas jagung dengan modal saprodi berasal dari pinjaman. Lalu ketika panen tiba pihak pemberi pinjaman tersebut mengambil hasil panennya lalu menjualnya, hasil penjualan dipotong tanggungan hutang, baru sisanya diberikan kepada petani. Hal ini terjadi karena petani takut merugi jika menggunakan modal sendiri dan tanaman mati atau gagal panen di tengah jalan. Selain itu mereka lebih memilih menjual ke pengepul yang meminjam karena mereka lebih menerima dijual murah dari pada tidak terjual. Mereka cenderung memlih aman daripada mengambil resiko.Di sisi lain petani juga merupakan orang-orang rasional bila ditinjau dari rasionalitas oleh Popkin. Mereka hakekatnya juga terbuka terhadap pasar dan siap mengambil resiko. Petani di Desa Ngargtirto beberapa juga ada yang berinisiatif mengangkut hasil panennya dan menjualnya sendiri ke pasar. Mereka menganggap bahwa hubungan dengan pengepul tidak akan membawa kemajuan.

Translate