Pada
kesempatan ini saya akan berbagi pengalaman hiking saya dan kawan kawan di
Gunung Sindoro, Wonosobo, Jawa Tengah.
Bermaksud
mengisi waktu luang saat libur sekolah karena sedang diadakan Ujian Sekolah
untuk kelas XII, rasanya tidak
afdhol, kami selaku tuan rumah, lebih tepatnya penduduk Wonosobo belum pernah menjelajahinya. Perjalanan dimulai dari rumah Farras di Krasak. Kami semua
berkumpul, packing, dan berbagi tugas di sana. Perlengkapan yang saya bawa
antara lain Kamera Saku menyewa di WORK atau Wonosobo Rental Kamera di samping
rumah saya seharga Rp.20.000/24 jam, Sleeping bag, Carrier 50liter, Sepatu
futsal(tidak direkomendasikan, saya gunakan sebagai alternatif sepatu gunung
yang harganya tidak terjangkau isi dompet saya hehehe..), Celana panjang, Jaket
Puma(sebenarnya bukan jaket outdoor, melainkan jaket untuk olahraga, tapi
karena keterbatasan peralatan, terpaksa saya gunakan) dan dilapisi Hoodie
Adidas, mantol plastik, pakaian ganti, parang, sarung, matras, air sebanyak
4,5liter dan makanan seperlunya. Lalu
setelah semua siap kita langsung menuju basecamp di Desa Sidegang, Kecamatan
Kejajar karena kami melalui jalur Tambi atau jalur utara. Keistimewaan lewat
jalur ini adalah kita bisa ngecamp di puncak, karena letaknya jauh dari kawah
Sindoro yang juga menghadap ke arah Jalur Kledhung, Temanggung. Jadi tidak
perlu repot repot Summit Attack di pagi
buta, waktu dingin dinginnya suhu. Selain itu kita disuguhi pemandangan Kebun
Teh dan Watu Susu di tengan perjalanan. Dinamakan Watu Susu karena bentuknya
menyerupai Susu(dada wanita). Setelah sampai di pertigaaan kita belok ke kanan,
jalan ini sebenarnya jalan alternatif menuju Ngadirejo di Temanggung, setelah
sampai rumah teman kami, Syarif. Kita menitipkan motor dan diantar sampai Pos 1
dengan mobil pickup, sebelumnya kita wajib mendaftar di basecamp. Basecamp ini
dikelola oleh Mbah Amin, letaknya di samping masjid dekat dengan Balai desa
Sigedang. Biaya pendaftaran Rp.5000,. Setelah sampai di Pos 1 kita bersiap
siap, melakukan pemanasan. Pendakian kami mulai pada pukul 09.00 WIB. Pada Pos
1 menuju Pos 2 dan 3 sempat terkendala karena kami kehabisan tenaga, perjalanan
melewati kebun teh memang menguras fisik kami, lalu kami istirahat sebentar dan
melanjutkannya lagi. Sekedar Informasi, perjalanan dari pos 1 ke pos 3 jaraknya
belum mencakup setengan dari total jarak yang diempuh. Kemudian kami memasuki
kawasan milik Perhutani, disini kita cukup teduh karena dikelilingi pohon pinus
dan kalby. Pada pukul 12.30 kami mencari tempat yang cukup landai untuk
istirahat, Sholat, dan makan. Di situ kami bertemu dengan rombongan dari
Pekalongan dan berbincang bincang dengan akrab, padahal kami belum pernah kenal
sebelumnya. Memang, Gunung adalah tempat yang bisa mempersatukan banyak orang
tanpa mengenal batas jabatan, gender,
tempat asal, umur, dan batasan batasan lain. Setelah lahan landai tersebut,
vegetasi hutan mulai berkurang dan didominasi semak dan rumput.Perjalanan
sempat terhenti karena sepatu yang digunakan Farras rusak, kemudian diganti
dengan sandal gunung milik Fandi. Kemudian setelah 2 jam kami berjalan
menanjak, jalan mulai dipenuhi batu dan kerikil yang labil, di sini dituntut
kehati hatian yang ekstra. Sejenak kami berhenti untuk mengambil gambar dengan
latar watu susu dan beristirahat untuk mengembalikan kekuatan otot yang pegal dan kadang sampai kram. Setelah puas
berfoto, kami melanjutkan perjalanan. Sebelum puncak anda akan menemui
bongkahan bongkahan pohon mati dan arang
yang cukup banyak, ini terjadi karena kebakaran hutan yang melanda saat
musim kemarau. Setelah berjuang cukup lama, akhirnya kami sampai juga di puncak
pada pukul 16.00, setelah menentukan lokasi yang pas untuk mendirikan
tenda/dome. Kami mulai mendirikan tenda yang kami sewa dari teman satu kelas
saya Cakra, sholat ashar, dan selanjutnya memasak. Sambil menunggu waktu sholat
maghrib kami berkumpul untuk menghangatkan badan dan saling berbagi bekal
masing masing. Setelah sholat maghrib kami mulai memasak mie sebagai makanan
berat. Sehabis menyantap mie instan, kami sholat Isya’. Dan selanjutnya kami
bercerita saling bertukar pikiran tentang masa depan, curhat, dan berbagi pengalaman.
Sungguh, kebersamaan sangat terasa di ketinggian 3.153mdpl. Setelah
beristirahat, selanjutnya kami sholat subuh, lalu kami berkeliling di puncak
yang memiliki luas 3 kali lapangan sepakbola sembari menanti munculnya mentari
di ufuk timur ditemani angin yang dingin menusuk tulang. Dan saat tiba waktunya
sunrise, sungguh indah, tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kami lalu
berfoto. Di sini kami bisa melihat gunung sumbing di seberang selatan, merbabu
,merapi, rawa pening, gunung ungaran di sebelah timur, pegunungan dieng dan
telaga menjer di utara,dan gunung slamet
di sebelah barat. Pukul 08.00 kami berkemas kemas dan membereskan tempat kami
mendirikan tenda. Setelah semua selesai kami turun pukul 09.00 dan sampai di
Pos 1 pukul 12.30. Dan kami menumpang mobil pickup menuju basecamp karena
Syarif sedang menghadiri acara, jadi tidak bisa menjemput kami. Kami lalu lapor
ke basecamp dan sholat Dhuhur di masjid. Kami terpaksa menumpang mobil lagi
menuju rumah Syarif dan akhirnya sampai juga dengan selamat.
 |
| Gunung Sindoro dilihat dari Jalan Kyai Muntang Wonosobo |
 |
| Gunung Sindoro berdampingan dengan Gunung Sumbing dilihat dari Desa Jaraksari |
 |
| Sunrise di puncak Sindoro |
 |
| Kondisi Puncak yang luas |
 |
| Pos 2 |
 |
| Kiri ke Kanan : Nofal, Fandi, Saya |
 |
| Kiri ke Kanan : Saya, Bachtiar, Farras, Nofal, Husein |
 |
Gunung Sindoro dan Gunung Kembang(anak gunung)
|