Sabtu, 06 Juni 2015

Gunung Sindoro via Tambi

Pada kesempatan ini saya akan berbagi pengalaman hiking saya dan kawan kawan di Gunung Sindoro, Wonosobo,  Jawa Tengah.

Bermaksud mengisi waktu luang saat libur sekolah karena sedang diadakan Ujian Sekolah untuk kelas XII, rasanya tidak afdhol, kami selaku tuan rumah, lebih tepatnya penduduk Wonosobo belum pernah menjelajahinya. Perjalanan dimulai dari rumah Farras di Krasak. Kami semua berkumpul, packing, dan berbagi tugas di sana. Perlengkapan yang saya bawa antara lain Kamera Saku menyewa di WORK atau Wonosobo Rental Kamera di samping rumah saya seharga Rp.20.000/24 jam, Sleeping bag, Carrier 50liter, Sepatu futsal(tidak direkomendasikan, saya gunakan sebagai alternatif sepatu gunung yang harganya tidak terjangkau isi dompet saya hehehe..), Celana panjang, Jaket Puma(sebenarnya bukan jaket outdoor, melainkan jaket untuk olahraga, tapi karena keterbatasan peralatan, terpaksa saya gunakan) dan dilapisi Hoodie Adidas, mantol plastik, pakaian ganti, parang, sarung, matras, air sebanyak 4,5liter dan makanan seperlunya.  Lalu setelah semua siap kita langsung menuju basecamp di Desa Sidegang, Kecamatan Kejajar karena kami melalui jalur Tambi atau jalur utara. Keistimewaan lewat jalur ini adalah kita bisa ngecamp di puncak, karena letaknya jauh dari kawah Sindoro yang juga menghadap ke arah Jalur Kledhung, Temanggung. Jadi tidak perlu repot repot  Summit Attack di pagi buta, waktu dingin dinginnya suhu. Selain itu kita disuguhi pemandangan Kebun Teh dan Watu Susu di tengan perjalanan. Dinamakan Watu Susu karena bentuknya menyerupai Susu(dada wanita). Setelah sampai di pertigaaan kita belok ke kanan, jalan ini sebenarnya jalan alternatif menuju Ngadirejo di Temanggung, setelah sampai rumah teman kami, Syarif. Kita menitipkan motor dan diantar sampai Pos 1 dengan mobil pickup, sebelumnya kita wajib mendaftar di basecamp. Basecamp ini dikelola oleh Mbah Amin, letaknya di samping masjid dekat dengan Balai desa Sigedang. Biaya pendaftaran Rp.5000,. Setelah sampai di Pos 1 kita bersiap siap, melakukan pemanasan. Pendakian kami mulai pada pukul 09.00 WIB. Pada Pos 1 menuju Pos 2 dan 3 sempat terkendala karena kami kehabisan tenaga, perjalanan melewati kebun teh memang menguras fisik kami, lalu kami istirahat sebentar dan melanjutkannya lagi. Sekedar Informasi, perjalanan dari pos 1 ke pos 3 jaraknya belum mencakup setengan dari total jarak yang diempuh. Kemudian kami memasuki kawasan milik Perhutani, disini kita cukup teduh karena dikelilingi pohon pinus dan kalby. Pada pukul 12.30 kami mencari tempat yang cukup landai untuk istirahat, Sholat, dan makan. Di situ kami bertemu dengan rombongan dari Pekalongan dan berbincang bincang dengan akrab, padahal kami belum pernah kenal sebelumnya. Memang, Gunung adalah tempat yang bisa mempersatukan banyak orang tanpa mengenal batas  jabatan, gender, tempat asal, umur, dan batasan batasan lain. Setelah lahan landai tersebut, vegetasi hutan mulai berkurang dan didominasi semak dan rumput.Perjalanan sempat terhenti karena sepatu yang digunakan Farras rusak, kemudian diganti dengan sandal gunung milik Fandi. Kemudian setelah 2 jam kami berjalan menanjak, jalan mulai dipenuhi batu dan kerikil yang labil, di sini dituntut kehati hatian yang ekstra. Sejenak kami berhenti untuk mengambil gambar dengan latar watu susu dan beristirahat untuk mengembalikan kekuatan otot yang  pegal dan kadang sampai kram. Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan. Sebelum puncak anda akan menemui bongkahan bongkahan pohon mati dan arang  yang cukup banyak, ini terjadi karena kebakaran hutan yang melanda saat musim kemarau. Setelah berjuang cukup lama, akhirnya kami sampai juga di puncak pada pukul 16.00, setelah menentukan lokasi yang pas untuk mendirikan tenda/dome. Kami mulai mendirikan tenda yang kami sewa dari teman satu kelas saya Cakra, sholat ashar, dan selanjutnya memasak. Sambil menunggu waktu sholat maghrib kami berkumpul untuk menghangatkan badan dan saling berbagi bekal masing masing. Setelah sholat maghrib kami mulai memasak mie sebagai makanan berat. Sehabis menyantap mie instan, kami sholat Isya’. Dan selanjutnya kami bercerita saling bertukar pikiran tentang masa depan, curhat, dan berbagi pengalaman. Sungguh, kebersamaan sangat terasa di ketinggian 3.153mdpl. Setelah beristirahat, selanjutnya kami sholat subuh, lalu kami berkeliling di puncak yang memiliki luas 3 kali lapangan sepakbola sembari menanti munculnya mentari di ufuk timur ditemani angin yang dingin menusuk tulang. Dan saat tiba waktunya sunrise, sungguh indah, tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kami lalu berfoto. Di sini kami bisa melihat gunung sumbing di seberang selatan, merbabu ,merapi, rawa pening, gunung ungaran di sebelah timur, pegunungan dieng dan telaga menjer di utara,dan  gunung slamet di sebelah barat. Pukul 08.00 kami berkemas kemas dan membereskan tempat kami mendirikan tenda. Setelah semua selesai kami turun pukul 09.00 dan sampai di Pos 1 pukul 12.30. Dan kami menumpang mobil pickup menuju basecamp karena Syarif sedang menghadiri acara, jadi tidak bisa menjemput kami. Kami lalu lapor ke basecamp dan sholat Dhuhur di masjid. Kami terpaksa menumpang mobil lagi menuju rumah Syarif dan akhirnya sampai juga dengan selamat.

Gunung Sindoro dilihat dari Jalan Kyai Muntang Wonosobo

Gunung Sindoro berdampingan dengan Gunung Sumbing dilihat dari Desa Jaraksari



silhouette keren
Sunrise di puncak Sindoro

Kondisi Puncak yang luas

Pos 2

Kiri ke Kanan : Nofal, Fandi, Saya
Kiri ke Kanan : Saya, Bachtiar, Farras, Nofal, Husein
Gunung Sindoro dan Gunung Kembang(anak gunung)



Translate